Tidak pernah terpikirkan oleh gue yang notabene sebagai perawat sehari-harinya ketemu orang sakit mulai dari demam, pilek, sampai yang kanker. Memberikan obat khemoterapi ke penderita kanker pun gue pernah.
Semua dimulai dari bapak yang ngeluh susah BAB sekitar lebih dari sebulanan, terus mencoba sendiri aja obat-obatan pencahar mulai yang diminum sampai yang dimasukin lewat an*s kaya mi****ax. Membantu sih, tapi ya kalo gak pake obat itu gak bisa BAB lagi. Do'i udah bolak balik ke RSUP F*******i tapi dibilangnya ga ada apa-apa, cuma dikasih obat buat enzym pencernaannya aja, gak disuruh foto rontgen apaaa gitu, gak disuruh cek lab juga. Kasian bapak :((
Gue sempet nanya, "BAB nya berdarah apa enggak, Pak?", terus kata bokap, "Iya, berdarah.". Semula kita semua pikir ya mungkin karna bapak punya hemoroid jadi wajar aja berdarah.
Tetapi yang membuat gue lebih menyesal lagi sebagai anak dan merasa bodoh juga sebagai tenaga kesehatan, kenapa gue gak peka sama perubahan yang terjadi sama bapak. Mungkin karena terlalu banyak gejala - gejala yang gue kenal sehingga banyak option penyakit yang bisa jadi perbandingan. Tetapi satu hal perubahan yang justru ini adalah gejala utama, yaitu berat badan bapak turun 10kg secara drastis dalam kurun waktu 1 bulan. Tapi kenapa dokter-dokter di rumah sakit "ITU" pun ga ada yang peka soal ini.
Karena gak tega lihat bapak yang terus-terusan seperti ini, gue nekat bawa bapak ke rumah sakit tempat gue kerja (RS Premier Bintaro) yang emang ketauan mahal sih, cuma demi kesehatan bapak apapun akan dilakukan. Uang bisa dicari, tapi kesehatan orang yang kita cintai apalagi orang tua jauh lebih penting.
Dimulai dari dokternya melakukan pemeriksaan fisik, dan nanya-nanya soal keluhan (dokter agak kaget waktu tau BB bapak turun drastis), setelah disimpulkan dokter mengambil form lab dan mencontreng beberapa pemeriksaan, dan salah satunya gue liat dia nyontreng beberapa tumor marker (cek lab pertanda adanya tumor/kanker). Disitu gue agak resah dan kayanya dokter tau, langsung dia bilang pelan-pelan sama gue "Kita cek aja ya, saya curiga diliat dari gejalanya, apalagi BB nya juga turun drastis."
Setelah ambil darah kita langsung pulang dan sekitar maghrib ditelpon sama RS bapak disuruh ambil darah ulang. Setelah diselidiki ternyata bapak ada kelainan darah gitu, jadi kalo diambil darahnya harus pake tabung tertentu, soalnya kalo enggak trombositnya suka turun drastis padahal asli nya engga. Soal pertanda tumornya sebenarnya gak tinggi-tinggi amat, tapi dokternya masih curiga ke kanker, sehingga diputuskan besok bapak harus dilakukan tindakan Colonoscopy. Semacam memasukan selang yang ujungnya ada kamera kecil untuk memantau langsung apa yang terjadi di saluran pencernaan.
Alhamdulillah kakak-kakak suster di bagian colonoscopy baik banget mempermudah kita dan dokter juga dengan baiknya mau free of charge, secara harga colonoscopy lumayan mahal. Dan selama Colonoscopy keluarga bisa lihat dari layar di satu ruangan. Dan ternyataa pemirsaahh..... Pas gue lihat satu benjolan, mudah ruptur alias berdarah, langsung gercep gue googling tentang kanker usus besar. Ya Allah.. Inikah rencanamu untuk kami....
Keluar dari ruangan, karena dokter udah lihat muka gue yang udah layu, dan dia pun mengerti gue sudah paham apa yang terjadi, dia gak menjelaskan apa-apa lagi, hanya mengangguk dan menulis hasil dari pemeriksaan dan tak lupa gue ucapkan terimakasih. Apa jadinya kalo gue gak buru-buru bawa ke rumah sakit ini ya Allah, apa jadinya kalo bapak tetep kekeuh berobat dirumah sakit pemerintah "itu". Sampel dari benjolan pun sudah dikirim ke bagian patologi anatomi untuk melihat jenis sel dan sudah stadium berapa kanker yang diderita bapak.
Gue menangis disamping tubuh bapak yang masih lemah karena pengaruh obat bius, tapi mamah buru-buru bilang, "Jangan nangis, nanti bapak tahu,". Langsung gue usap air mata. Kebayang gimana hari-hari kedepan yang harus kami jalani. Bapak harus secepatnya dioperasi dan..... Kemoterapi. Kebayang langsung jual rumah jual mobil. FYI biaya sekali kemo itu sekitar 17 juta dan biasanya dilakukan 2 kali sebulan sampai 6 - 12 kali seri. Tapi alhamdulillah karena bapak PNS, ada jaminan kesehatan yang membuat kita gak perlu pusing mikirin biaya.
Karena bapak PNS dan pemakai askes, jujur gak tega bapak dioperasi di rumah sakit "itu". Masalahnya ini operasi besar dan mengangkat jaringan yang terkena kanker itu bukan perkara sepele. Sekali dikecewakan gue langsung ilang rasa percaya. Apalagi tenyata bapak kena kanker. huh!
Akhirnya kita putuskan dioperasi di Premier Bintaro yang untuk biayanya kita pikirin nanti. Yang penting bapak mendapatkan yang terbaik untuk kesehatannya. Kami sekeluarga sadar ini bukan akhir dari segalanya. tetapi justru awal dari perjuangan mencari pahala dengan segala kesabaran dan doa kami. Allahu Akbar....
No comments:
Post a Comment